Reny Feby Jewelry : Semua Berawal dari Johny the Baso Man

Reby Feby Jewelry (RFJ)

RFJ adalah sebuah merk dagang yang didirikan pada tahun 2000 oleh Reny Feby, seorang wanita yang mencintai seni dan suka mengeksplorasi hal-hal baru

Gathering WPC 14

Visi dan Misi RFJ adalah mempromosikan keindahan perhiasan Indonesia ke pasar internasional dan membangun galeri perhiasan.

Mba Reny tidak pernah menyangka bisnis yang dijalaninya bisa besar seperti ini.   Dan juga tidak pernah punya pengetahuan bisnis tentang perhiasan sebelumnya. Dulu awalnya mba Reny mengawali bisnisnya, dengan memanfaatkan garasi rumahnya sebagai workshop, yaitu dengan berjualan perhiasan milik kakaknya. Kakak dari mba Reny dulu berbisnis perhiasan.

Saya harus bertemu minimal 1 orang per harinya. Walaupun ia tidak membeli. 

Dulu juga semua proses bisnisnya dikerjakan sendiri. Mba Reny menyebutkan dengan istilah Jhony the Baso Man, One Man Show, semua dikerjakan sendiri. Ya OB, kurir, administrasi, packing barang, gunting bahan, beli bahan sampai sekecil-kecilnya dikerjakan sendiri. Ohya, jangan salah, mba Reny ini juga dulu saking hecticnya beliau sempat stress, karena dikejar-kejar deadline dan semua dikerjakan sendiri. Mulai dari penagihan ke customer, memikirkan pameran dan marketing, control pengerjaan tukang, dan sebagainya.

Dulu mba Reny hanya mempekerjakan 1 orang karyawan saja. Tapi lama kelamaan karena dirasa kurang, akhirnya karyawan menjadi 2 orang. Setiap hari kerja sampai jam 11 malam. Semua dijalani dengan penuh keyakinan dan ketekunan. Lama kelamaan bisnisnyapun berkembang dan merasa butuh tambahan karyawan lagi. Hingga sampai sekarang mba Reny mempunyai banyak karyawan. Yang terdiri dari admin, finance, controler, IT, dan sebagainya.

Di tahun 2004, RFJ mulai terbentuk marketnya. RFJ fokus utamanya yaitu penetrade ke Malaysia. Sehingga mba Reny menjadi sangat sibuk, akhirnya memutuskan untuk menambah karyawan lagi. Hingga suatu saat mba Reny mendapat undangan dari VVIP Malaysia, yaitu orang yang dekat sekali permaisuri Malaysia, mendapat kehormatan untuk datang ke Malaysia dengan membawa perhiasannya.

Bisnis itu suatu proses yang harus dijalani dan dinikmati.

Mba Reny yang saat itu tidak tahu apa-apa tentang Malaysia, akhirnya modal nekat berangkatlah menuju Malaysia dengan penuh keyakinan dan positif thinking.

Womanpreneur itu kudu nekat dan jangan takut

Mba Reny saat itu sempat agak takut juga, pasalnya mba Reny membawa perhiasan milyaran (catet nih, milyaran bo!) keluar negeri, ke negeri orang yang sama sekali dia belum pernah ketemu, tapi beliau jalani dengan penuh keyakinan. Karena 90% perhiasan yang mba Reny bawa kebanyakan bukan milknya, adalah milik kakaknya. Sempat punya kekhawatiran, takut barangnya hilang, kalau ditipu bagaimana. Dan sebagainya.

Nah, perjalanan menuju sang permaisuri Malaysia belum berjalan mulus. Di tengah jalan mba Reny harus berhadapan dengan Bea Cukai (Imigrasi) di Malaysia. Segala pertanyaan diajukan kepadanya. Mba Reny ditanya, “Membawa apa?” Mba Reny menjawab, “Perhiasan. Saya diundang oleh permaisuri untuk membawa perhiasan ini.” Sempat juga bikin mba Reny gemeeran saat itu. Tapi ya mau gimana lagi? Ya jalani aja. Sejak saat itu saya jadi ada pendekatan dengan orang KBRI.

Gathering WPC 16

Mba Reny Feby sedang menjelaskan perjalanan bisnisnya

Sejak saat itu, mba Reny hampir tiap hari bolak balik penetrade ke Malaysia. Hampir 12 tahun ia jalani. Yang tadinya excited lama-lama eneg juga 🙂 Saat mba Reny membawa perhiasannya kepada para petinggi Malaysia seperti, Datin, Datuk, tansri, orang yang high end, semua mengantri 🙂 Kenapa kok pada ngantri? “Karena kita ini 1 level diatas mereka. Barang-barang kita lebih uptdate ketimbang mereka. Barang-barang di Indonesia yang udah kudet (kurang update), dibeli oleh mereka dan dijual disana.” Nah bersyukurlah kita ya 🙂 Semua itu terjadi saat Malaysia belum terjadi krisis moneter.

Karena bisnis semakin hectic dan berkembang. Pegawainya pernah mencapai di angka 100 orang wow 🙂 yup. Mba Reny mempekerjakan karyawan outsourcing, terdiri dari 40 orang karyawan pribadi, dan 60 orang lainnya adalah outsourcing.

Karena semakin hectic itulah, mba Reny sempat mengalami stress yang cukup serius. Bagian wajah sebelah kiri sempat kaku dan tidak bisa digerakkan. Mba Reny akhirnya sempat dirawat juga di Rumah Sakit. Setelah konsultasi dengan dokter, mba Reny didiagnosa karena stress dan terlalu banyak yang difikirkan.

Setelah sembuh, akhirnya mba Reny mencoba untuk ikut coaching.  Kebetulan beliau punya personal coach. Dia langsung mengajarkan kepada saya, cara-cara pemasaran, bisnis dan sebagainya.

Bisnis itu someday pasti akan lebih besar.

Bisnis itu harus dinikmati melalui proses. Jika saat ini kita hanya mampu One Man Show, ya tidak apa-apa. Jalani saja sesuai dengan alurnya. Nikmati prosesnya. Karena bisnis yang tiba-tiba besar juga salah. Misalnya saja, kita punya uang Rp. 500juta. Bingung mau bikin bisnis apa. Hari gini mau bikin bisnis 500juta itu cuma cukup sewa tempat ajaa. Belum maintance listrik, biaya pegawai, pajak, dan sebagainya. 500juta itu gak berarti apa-apa. Belum tentu juga uang itu akan kembali modal. Ibaratnya, buang uang di dalam laut.

Nah, kalau kita cuma punya 1 orang pegawai, ya gak apa-apa, ya jalani aja. Semakin sedikit kita punya pegawai, semakin ringan juga beban kita, kita jadi tidak terbebani.

Jalani semua proses. Karena kita perlu tahu mengenal sekali apa yang kita inginkan, market apa yang kita bentuk. Karena mna Feby percaya, bahwa suatu bisnis yang tiba-tiba naik,  akan cepat juga turunnya.

Wah, gak terasa RFJ telah memasuki tahun ke-17 dalam perjalanan bisnisnya. Seiring dengan itu, mba Reny berencana nantinya akan membuat buku yang mengisahkan perjalanan hidupnya, mengawali bisnisnya dari 0. Karena suka duka mba Reny menjalani RFJ ini sangat luar biasa. Perlu didokumentasilah istilahnya 🙂

Oya. Di tahun 2000, waktu mba Reny masih mempunyai karyawan 1 orang lalu meningkat menjadi 2 orang, beliau punya dreams. Beliau ingin mempunyai gallery perhiasan sendiri. Dreams itu tercipta saat mba Reny ke Eropa dan menemukan gallery yang isinya brandes bags ataupun produk-produk dengan brand ternama yang terpampang dengan apiknya serta mengundang banyak mata untuk melihatnya.

Nah, ternyata dreams itu adalah visinya RFJ. Beliau sempat berfikir, kok kenapa di Indonesia tidak ada ya seperti itu? Gallery perhiasan yang membuat orang nyaman, yang bisa duduk manis, sambil minum teh, sambil menikmati perhiasan. Karena menurutnya, perhiasan ini adalah suatu hobby, atau investasi bagi wanita. Jadi momen seperti ini harus dibikin rileks, sehingga orang merasa nyaman saat ingin membeli.

Perhiasan bukan cuma teruntuk wanita saja lho. Banyak pelanggan-pelanggan RFJ yang diantaranya para laki-laki dan mereka juga crazy akan perhiasan.

Mba Reny punya dreams, beliau ingin mempunyai satu gallery yang orang menikmati momen tiap momen di dalamnya. Bukan hanya sebagai perlakuan seperti di toko, hit and run saja. Datang dan pergi begitu saja. Tapi mba Reny ingin memperlakukan tamu-tamu yang hadir ke gallerynya sebagai tamu spesial, yang dijamu dengan baik layaknya tamu di rumah kita sendiri.

Dreams itu kalau difikir dengan akal logika, kok rasanya tidak mungkin ya? Harga tanah kan selangit? Gimana caranya ya saya bisa memiliki gallery seperti impian saya? Harga tanah dan keuangan saya kan gak cukup? Ahh tidak akan pernah cukup! Dan itu semua cuma mimpi bagi saya. Kayaknya mimpi kali ya? 🙂

Demi mewujudkan mimpi-mimpinya itu, beliau sering menempel mimpinya di dinding kamar supaya masuk ke bawah alam sadar. Dan mba Reny selalu berdoa sebelum dan sesudah tidur, berdoa supaya mimpinya itu segera dikabulkan. Setiap malam doa itu dipanjatkan.

Yang menguatkan dan support mba Reny dan mau melakukannya sampai detik ini adalah berkat keluarga, anak-anak dan mimpi-mimpinya. Kalau dipikir-pikir, sebagai wanita itu harus bisa multitalented. Kita harus bisa membagi waktu.

Sesekali beliau pernah berpikir, kenapa di dunia ini sepertinya gak adil yah buat saya, buat kita kaum perempuan? Kok kayaknya banyak banget yah yang harus diurusin? Belum masalah rumah tangga, masalah anak, anak sekolah, belum lagi bisnis, belum lagi pribadi, wah pokoknya macem-macem deh. Liat suami kok enak aja gitu ya, cuma kerja di kantor? Nah, disinilah beliau tekankan, pentingnya kita sebagai ibu rumah tangga bisa membagi waktu, antara bisnis dan rumah tangga.

Akhirnya, berbekal dengan keadaan itu, beliau punya dreams, dengan petunjuk dari sang coach, beliau coba duduk tenang dengan nyaman, coba membayangkan apa yang menjadi keinginan kita? Dreams kita apa. Awalnya mba Reny tidak tahu apa sih yang sebenarnya menjadi dreamsnya. “Bisnis sudah besar, anak-anak juga sudah bisa mandiri. Tapi apa sih yang sebenarnya menjadi dreams dari saya? Sebenarnya saya mau jadi apa sih? Ternyata saya tidak tahu apa yang jadi dreams saya

Dulu menjalani bisnis RFJ ini tidak pernah terpikirkan arahnya mau kemana dan mau jadi seperti apa. “Yang penting mah jalani aja dulu. Gimana besok aja.” Kata mba Reny 🙂

Dengan kita tahu diri kita, tahu kita mau jadi apa, kita jadi bisa meraih apa yang kita mau. Contohnya, misalnya kita ingin mendaki gunung es setinggi lets say katakan 5000 m. Dari awal kita tahu tujuan kita, oh ya, kita akan mendaki gunung es itu setinggi 5000 m. Nah, sama seperti RFJ. Mba Reny dulu punya mimpi, akan membuat gallery Pendapa Pusthika ini.

Bermimpi itu gak bayar dan gak pernah salah. Soal terwujud apa gak ya gimana nanti aja. Yang penting yakini aja.

Ternyata alhamdulillah mimpinya dikabulkan oleh Allah SWT. Tiba-tiba semua ada jalannya. Mimpi tahun 2003 akhirnya mimpinya terwujud di tahun 2008. Pada saat itu benar ya, mimpi itu bisa diwujudkan.

Mba Reny berpesan, jangan bilang, “Ahh… itu mimpi. Gak mungkin tercapai“. Tapi ganti kalimat negatif kita dengan positif, “Mimpi kok itu. Gak papa. Mudah-mudahan tercapai.” Merubah kalimat dari yang negatif ke positif itu gak bayar.

Tahun 2008 baru punya visi dan misi. Baru punya mimpi. Yaitu menjadikan RFJ duta bangsa perhiasan Indonesia di luar negeri. Selalu ingin menjadikan icon perhiasan di luar negeri. Visi ini beliau sampaikan kepada seluruh team saya. Jika kamu ingin bergabung dengan RFJ, kalian harus tahu visi misi dari RFJ. Yuk kita maju bareng. Tapi kalau anda tidak setuju dan tidak sepaham dengan visi misi RFJ, anda dipersilakan berlayar dengan kapal sekoci anda sendiri.

Jadi dari awal tim RFJ tau tujuan seperti apa. Dari situlah mereka akhirnya menjadi solid.

Flash back sedikit ke tahun 2003.

Pada tahun 2003, mba Reny ikut IWAPI dan saat itu ditunjuk bendara DPD DKI Jakarta. Pada saat itu beliau punya kesempatan (pada waktu seminar) netherland countries punya dana CSR, membantu pengusaha (medium skills) untuk bisa dikirimkan expert dari netherland ke Indonesia.
Mba Reny memang lulusan fakultas hukum UI dan gak punya bekal apa-apa soal marketing, finance dan perhiasan, tapi beliau ya pede aja untuk mengajukan diri.

Akhirnya berbekal nekad dan percaya diri, saya menyampaikan kepada pihak netherlands. Waktu itu mba Reny pede aja menawarkan programnya kepada pihak Netherlands apakah mereka mau menawarkan bantuan pelatihan tentang perhiasan kepada mba Reny dan tim? Mba Reny menceritakan keadaannya bahwa RFJ nya baru berjalan 4 tahun dan baru mempunyai karyawan 10 orang.

Alhamdulillah mereka menyetujui. Akhirnya dari pihak Netherlands (Dutch countries) mengirimkan seorang designer perhiasan asal Netherlands (Marike Baker), yang didatangkan ke Indonesia. Dan dia punya brand perhiasan di Indonesia bernama Tiffany & Co. Mungkin yang ingin tahu gallerynya bisa datang ke Plaza Senayan.

Tiffany & Co adalah dibentuk pada tahun 1800 dan terbesar di New York dan family company.

Marike Baker bekerja di Tiffany & Co sebagai designer pada tahun 1978. Kemudian dia datang ke Indonesia untuk membantu mba Reny dengan 3x pertemuan. Marike Baker stay di rumah mba Feby selama 1 bulan. Lalu duduk di factory mba Reny dan full memberikan pelatihan langsung kepada tim. Pelatihannya berupa bagaimana konsep desain, quality control, barang yang diproduksi, siapa marketnya, dan sebagainya. Jadi Marike Baker benar-benar mem-brain storming mba Reny.

Jika kamu ingin export, berarti kamu harus tahu dulu negara-negara yang akan kamu tuju (penetrade). Misalnya Eropa. Pelajari syarat-syaratnya, kesukaan, lifestylenya, model, warna, dan sebagainya.” Itulah konsep yang diberikan oleh Marike Baker. Jadi bukan buat produk yang kita suka. Itu salah besar. Mba Reny selama ini salah persepsi. Beliau tidak pernah memperhatikan kondisi pasar. Yang penting laku.

Mba Reny belajar dari kesalahan-kesalahannya selama ini. Sejak saat itu beliau mulai membuat konsep untuk bisnisnya ini. Tahun 1998 trendnya saat itu emas dan diamond warna kuning. Lalu trend berubah menjadi emas putih. Lalu trend berubah lagi menjadi batu-batuan besar, mutiara dan kemudian menjadi bros. Nah, saat ini, untuk perhiasan orang lebih menyukai batu akik dan perhiasan heritage.

Kita bisa melihat perubahan-perubahan trend yang ada. Setiap pemilik bisnis harus tahu perubahan demi perubahan (stories) dari trend yang sedang berjalan. Karena mba Reny sudah mengalaminya terlebih dahulu selama 17 tahun 🙂 Sudah mengalami naik turunya bisnis selama 17 tahun.

Mba Reny pernah mendapat kesempatan mendesain crown (mahkota) Miss Indonesia Pageants pada tahun 2004, yaitu Artika Saridevi dan Nadine Candrawinata. Mba Reny kenal dengan Ibu Mooryati Soedibyo. Waktu itu kenal karena anak mereka sama-sama buka booth di Jepang. Ibu Moor (demikian beliau disapa), mengenal mba Reny adalah pengrajin perhiasan, akhirnya Ibu Moor mengajak kerjasama untuk mensponsori mahkota Putri Indonesia ini. Saat itu perasaan mba Reny campur aduk plus keringet dingin 🙂 Karena pertama kali buat crown dan batunya seperti apa, dan sebagainya. Sponsor pembuat crown Putri Indonesia sebelumnya adalah berasal dari luar negeri. Tapi kali ini Ibu Moor sendiri yang menunjuk dan memberikan kepercayaan kepada RFJ. Luar biasa 🙂

Bagi mba Reny, tawaran tersebut adalah merupakan suatu kebanggaan untuk RFJ. Karena namanya terpampang dengan tegas di crown Made by Reny Feby Jewelry.

Sebenarnya, sejujurnya, mba Reny tidak punya modal knowledge apa-apa, cuma berbekal nekat aja. Yah sejak saat itu, selepas tawaran dari Ibu Moor, tawaran untuk membuat crown yang datang ke RFJ bertubi-tubi. Akhirnya mba Reny jadi mengerti cara membuat mahkota yang bagus itu seperti apa.

Nah, belajar dari pengalaman beliau, kita itu harus meng-create niche market bisnis kita. Kita bentuk sendiri. Kita harus tahu. Kalau kita mau sukses, kita harus tau siapa yang di papan atas, siapa target market high end kita. Kita harus punya tujuan yang tinggi, “Kita harus tahu penetrasi barang-barang kita kemana. Apakah ke pasar? Ke Gallery? Ke butik? Export? Atau someday barang kita mau di gallery Paris Lafayete?”  Demikian mba Reny berpesan.

Mba Reny ingat betul pada tahun 2003, barang beliau pernah dihina dina oleh Ibu Mentri. Salah satunya adalah Ibu Denok Wahyudi dan Ibu Hasan Wirayuda. “Barang kamu jelek. Gak level sama kamu!” Perhiasan mba Reny pernah ditawar serendah-rendahnya oleh beliau. Awalnya mba Reny gak tahu bahwa Ibu Denok Wahyudi itu adalah istri Bapak Menteri 🙂 Mba Reny tahu karena waktu itu sempat mengantar barang ke Widia Chandra.

Nah, saat itu mba Reny masih berpikiran positif. “Oke deh. Gak papa saya jual murah. Yang penting saya punya kenalan ibu mentri!” Dalam hati mba Reny.

“Prinsip saya, yaudah gapapa rugi sejuta, nanti saya cari lagi untung di tempat lain dengan orang lain”

Perhiasan mba Reny sempat dikritik habis-habisan. Penitinya kurang tajamlah, bentuknya kurang baguslah, dan sebagainya. Tapi dari situlah mba Reny jadi intropeksi diri. Untuk perbaikan produknya.

Saat itu mba Reny memberanikan diri mengutarakan uneg-unegnya kepada ibu mentri itu, “Bu, Ibu kan istri mentri luar negeri ya? Harusnya ibu bangga dong pakai produk saya. Karena saya membuatnya memakai produk dalam negeri” Saat itu mba Reny melihat ibu mentri tersebut memakai perhiasan bermerk “Kahtier” (gambar harimau) dari France yang harganya mencapai ratusan juta. Waktu itu mba Reny tahu karena pernah lihat di majalah.

Kalau ibu pakai perhiasan Kahtier yang dari France ini, berarti ibu membanggakan karya orang lain dong? Bukan produk dalam negeri?” Pertanyaan yang menohok banget yak buat ibu mentri itu mah 😀

Tapi ibu harus bangga kalau ibu pakai perhiasan dari saya. Setiap ibu keluar negeri, ibu meeting dengan para pejabat, harusnya ibu bangga pakai produk dalam negeri. Harusnya ibu bilang This is handmade from Indonesia” Mba Reny berusaha untuk mem-brain storming ibu mentri itu. Hahaa memang gelo ya 🙂 Saya aja belum tentu berani bilang demikian.

Akhirnya si ibu mentri itu berfikir. Saat ibu Megawati jadi Presiden RI, pak SBY jadi Menkopolkam, Ibu Yusuf Kalla jadi menkokestra. 6 bulan kemudian ada KTT Asean di Bali tahun 2004-2005 di Westin Hotel. Tiba-tiba Ibu Hasan Wirayuda telfon mba Reny, “Reny, ini ada KTT Asean di Bali, dan saya mau kamu memamerkan perhiasan kamu diantara ibu-ibu presiden dan negara-negara ASEAN,. Saya sudah kasih kamu spot di Hotel Westin, nanti protokol saya ada yang atur” Mba Reny sempat merinding, waduh, barang darimanaaa ini, mati gueee? :))

Saat itu kondisi RFJ belum stabil. Barang juga masih pinjam-pinjam punya kakak. Workshop juga masih belum terorganized dengan baik. Modal juga masih irit-irit. Tukang pekerja juga masih amatiran. Product knowledge juga belum ada. Belum ada gallery juga saat itu. Dan Mariker Baker juga belum datang saat itu.

Oke bu, Siap!” Mba Reny akhirnya mengambil keputusan untuk mengambil peluang itu. Mba Reny mungkin termasuk orang yang lucky juga. Akhirnya demi memenuhi tanggung jawab, mba Reni siap berangkat ke Bali untuk pameran disana, dengan berbekal pinjam barang dari kakak. Waktu itu di KTT Asean itu ada Ibu Mahatir Muhamad, Ibu PM Vietnam, Ibu PM Filipina, Ibu PM Thailand.

“Ceritain dan mengingat ini lagi saya jadi merinding..”

Waktu itu belum ada social media seperti facebook. Jadi mba Reny belum bisa mengabadikan momen-momen itu. Alias belum bisa narsis 🙂 Saat itu Ibu Hasan Wirayuda sebagai host dari Ibu-ibu negara sekaligus merangkap jadi ibu presiden. Uniknya seperti itu. Semua yang mengatur pertemuan ini adalah Ibu Hasan Wirayuda. “Wah berarti yang menyusun rencana ini semua adalah Ibu Hasan ya. Wah baik juga ya dia. Walaupun dia menghina dina produk saya, tapi minimal dia bisa mempromosikan barang saya.” Dalam hati mba Reny.

Setelah pertemuan itu, akhirnya mba Reny diundang ke kamar-kamar dari para ibu PM disana. Perasaan mbaReny saat itu seneng luar biasa, diperlakukan istimewa oleh para ajudannya. Dibawakan tasnya, dipersilakan layaknya orang penting. Padahal mba Reny merasa dia hanya orang kecil dan pelaku UKM. Seperti semua mimpi 🙂

Tahun berlalu. Tibalah saatnya Pak SBY menjadi presiden. Otomatis Ibu Ani juga naik statusnya menjadi Ibu Presiden saat itu. Nah, saat itu mba Reny diundang ke istana oleh Ibu Presiden. Sebelumnya mba Reny memang kenal dengan Ibu Ani ini. Saat itu mba Reny dihubungi melalui ajudannya. Ibu Ani memanggil mba Reny, guna untuk menceritakan bagaimana kiprah perhiasan di Indonesia? Kira-kira tahun 2005. Saat Anisa Pohan baru saja menikah. Jadilah, akhirnya yang membuat perhiasan 1 keluarga dari Anisa Pohan saat Anisa ingin menikah adalah RFJ. Woow suatu achievement yang luar biasa yaaa…

Ya alhamdulillah banget. Mungkin itu juga faktor luck yang membuat saya seperti ini.” Selama 10 tahun RFJ penetrasinya adalah ke Ibu Mentri dan para pejabat tinggi. Jadi kalau mereka sedang ada pertemuan ataupun meeting, pasti selalu memakai perhiasan dari RFJ.

Buat mba Reny ini semua adalah puncak kesuksesan dari RFJ. Bukan saya saja yang bisa, tapi untuk semua para mompreneur juga bisa. Apapun itu usahanya.

Saat membangun gallery RFJ ini, mba Reny sempat punya dreams lagi, someday Ibu Wakil Presiden atau permausuri agung harus mampir ke gallery saya. Alhamdulillah dreams itu pernah terwujud. RFJ pernah didatangi oleh tamu agung sang permaisuri dari Malaysia. Mereka telfon ke Pendapa Pusthika minta disiapkan segala sesuatunya. Saat itu pertemuan selama 3 jam.

“Coba ibu bayangkan, kalau posisi kita sudah dikenal oleh mereka, someday kita akan dicari oleh mereka. Bukan kita yang mencari mereka.”

Tapi bagaimana caranya? Kita harus tahu, Whats in her mind? Kita harus bisa menciptakan produk sesuai keinginan mereka,harus buat produk yang bagus.

Mba Reny sempat ngobrol dengan mba Reni (Batik Sesawi), coba mba Reni bayangkan Ibu Jokowi bagaimana sekarang berpakaiannya? Bikin sepatu yang cocok buat dia. Kasih ke dia untuk hadiah. Bikin ada story dan handmadenya buat dia. Ya bismillah aja. Kan kita gak tau dia pakai atau gak.

Ini terbukti waktu Ibu Ani memakai bros RFJ, semua ibu-ibu mentri, ibu bupati, sekda semua mencari mba Reny. “Jadi kita gak perlu kerja keras apa-apa yang penting kita kejar atasnya aja.” Ohiyaa ya betul juga, apa yang dikatakan mba Reny. Tapi kita harus tahu, yang atas ini kebutuhan dan keinginannya seperti apa. Karena ini semua adalah bagian dari strategi marketing.

Kalau kita bikin baju batik, buatlah baju batik yang terbaik. Kalau kita bikin baju tenun, bikinlah baju tenun yang terbaik.

Pendapa Pusthika saat pembukaan dihadiri oleh Ibu Yusuf Kalla dan Ibu Ratna Jokosuyanto (Ibu Menkokam saat itu). Saat itu memang hubungan mba Reny kenal baik dengan Ibu Yusuf Kalla.

Pada tahun 2013, mba Reny mendirikan Inafest. Ini adalah collaboration Indonesian Embassy untuk Empowering Woman. Karena misi mba Reny ingin membawa wanita-wanita Indonesia goes global. Karena dengan pengalaman-pengalaman yang dia lalui selama ini ingin semua wanita Indonesia mengalaminya juga.

Kita harus mengenal orang atas, seperti Ibu Jokowi contohnya, karena beliau sekarang adalah menjadi trendsetter. Misalnya aja Ibu Yusuf Kalla, atau ibu Mentri manapun yang kita kenal. Jangan pernah malu mempromosikan barang kita. Banggalah menjadi UKM. Banggala sebagai industri mikro yang perlu pembinaan. Dengan senang hati Ibu Mentri akan memberikan apa yang kita butuhkan. Karena itu  adalah tanggung jawab mereka.

Mba Reny juga mengajar di Departemen Dalam Negeri, yaitu memberikan pelatihan tentang perhiasan kepada ibu-ibu Duta Besar, yang akan berangkat keluar negeri. Jadi kalau kita mau keluar negeri, bisa contact ke mba Reny ini, bisa dibantu, karena mba Reny kenal sekali dengan Ibu-ibu duta besarnya. Lha wong muridnya sendiri? 🙂

Pasar alhamdullillah sudah terbuka. Beberapa award juga sudah pernah dicapai oleh RFJ. Semua ini adalah bagian dari proses perjalanan UKM.

Motivasi RFJ adalah mba Reny senang berbagi. Mba Reny percaya ibu-ibu yang berbisnis someday juga akan menjadi wanita sukses.

Semangat dan pesan mba Reny, percayalah akan kekuatan mimpi. Dengan mimpi itu akan membawa kita kepada kesuksesan.

Nah quotes dari mba Irma untuk pertemuan terakhir, “Sukses itu gak pakai lift. Gak pakai escalator juga. Harus naik tangga. Setiap tangga adalah pencapaian kita. Dari impian-impian kita yang kita rajut.” 

Advertisements

2 thoughts on “Reny Feby Jewelry : Semua Berawal dari Johny the Baso Man

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s